Apa yang Terjadi

Menurut laporan Ceritakita/VIVA pada 8 Oktober 2026, sebuah video TikTok memperlihatkan deretan makanan dan minuman olahan asal Indonesia di rak sebuah pasar swalayan di Kuala Lumpur. Pemilik akun mengklaim harga produk Indonesia jauh lebih murah daripada produk lokal Malaysia dan menyebut hal itu merugikan pedagang kecil setempat.

Video itu dilaporkan ditonton lebih dari dua juta kali dalam 48 jam. Seruan boikot lalu berpindah ke platform X dan grup Facebook, dan tagar boikot kuliner Indonesia masuk daftar trending di Malaysia. Sebagian influencer kuliner Malaysia ikut bersuara, dan isunya bergeser dari harga ke perdebatan asal-usul hidangan tradisional.

Di Indonesia, banyak warganet menanggapinya santai dan menilai harga murah sebagai tanda daya saing. Laporan itu menyebut belum ada pernyataan resmi dari pemerintah kedua negara, tidak menyebut merek tertentu, dan tidak memverifikasi klaim harga dalam video.

Tiga Pelajaran untuk UMKM

  • Miliki satu tempat resmi untuk bercerita. Saat sebuah isu viral, orang mencari sumber utama. Website dengan profil usaha, asal bahan, dan cara produksi membuat cerita Anda tidak ditentukan oleh potongan video orang lain.
  • Jangan hanya mengandalkan harga murah. Dalam kasus ini, harga justru menjadi bahan perdebatan. Merek dengan cerita, kualitas, dan identitas yang jelas lebih tahan terhadap sentimen sesaat.
  • Pantau percakapan dan jangan terburu-buru bereaksi. Pelaku usaha kuliner Indonesia di Malaysia disebut memilih menunggu dan memantau. Siapkan satu orang yang memantau sebutan merek Anda dan satu pesan singkat yang sopan jika diperlukan.
Intinya

Konten viral lintas negara tidak bisa Anda kendalikan, tetapi cerita merek di kanal milik Anda sendiri bisa Anda siapkan sebelumnya.

Langkah Minggu Ini

Tulis satu halaman “tentang produk kami” yang memuat asal bahan, proses, dan kontak resmi. Pastikan informasi itu sama di website, marketplace, dan media sosial Anda.