Apa Saja yang Sebenarnya Wajib Diberi Label
Permendag 19/2026 mengatur bahwa setiap konten promosi, rekomendasi produk, atau materi pemasaran yang dibuat menggunakan AI harus disertai keterangan atau label yang jelas. Cakupannya cukup luas: foto produk yang latar belakangnya dihasilkan atau diubah AI, model virtual/influencer AI yang memakai produk, deskripsi dan copy iklan yang ditulis oleh AI generatif, hingga rekomendasi produk otomatis di halaman toko. Pelaku usaha juga wajib memastikan informasi yang dihasilkan AI itu akurat dan menyediakan jalur komplain kalau ada kesalahan.
Yang membuat topik ini makin ramai dibicarakan sekarang bukan aturannya, sebab aturan ini sudah berlaku sejak Juni, melainkan mulai gencarnya penegakan di lapangan. Beberapa platform, termasuk TikTok Shop, sudah mengeluarkan peringatan bahwa listing yang memakai konten AI tanpa label berisiko di-takedown. Artinya seller yang selama ini pakai tools AI "diam-diam" tanpa menandainya kini benar-benar menghadapi risiko konkret, bukan sekadar potensi sanksi di atas kertas.
3 Langkah Supaya Listing Tidak Bermasalah
- Audit semua konten AI yang sudah dipakai. Cek ulang katalog produk: foto mana yang latarnya diedit AI, model mana yang sebetulnya virtual, dan deskripsi mana yang ditulis pakai tool AI. Buat daftar ini sebelum memutuskan mana yang perlu diberi label.
- Aktifkan fitur label AI resmi di platform. Sebagian besar marketplace dan TikTok Shop sudah menyediakan toggle atau keterangan khusus untuk konten AI di panel unggah produk. Pastikan fitur ini diaktifkan sebelum listing tayang, bukan setelah ditegur platform.
- Pastikan akurasi dan siapkan jalur komplain. Kalau deskripsi ditulis AI, cek ulang detail seperti ukuran, bahan, dan spesifikasi agar sesuai produk asli, lalu sediakan kontak yang jelas untuk pembeli yang ingin komplain, sebagai bagian dari kewajiban akuntabilitas dalam aturan tersebut.
Label AI bukan cuma soal menghindari sanksi. Konsumen sekarang makin sadar konten buatan AI, dan toko yang transparan soal cara mereka membuat foto atau deskripsi produk justru berpeluang membangun kepercayaan lebih besar dibanding toko yang ketahuan menyembunyikannya, apalagi kalau sampai kena takedown di depan pelanggan.
Kesimpulan
Penegakan label konten AI di marketplace dan TikTok Shop akan makin ketat dalam beberapa bulan ke depan, seiring platform menyesuaikan sistem mereka dengan Permendag 19/2026. Seller yang bergerak cepat merapikan katalog, mengaktifkan label yang sesuai, dan memastikan akurasi kontennya akan lebih aman dari risiko takedown dibanding yang menunggu sampai ditegur langsung oleh platform.

